Rss

Rabu, 28 Mei 2014

Into The Devil-

Into The Devil- Aku menggandeng lengan Lily, menuntunnya menyusuri gelap, menembus belukar yang tumbuh lebat di kanan kiri. Ia sesekali melambat, menurunkan tempo lajunya sebab kelelahan. "Kau yakin, kita tidak tersesat, Dave?" Aku tetap berjalan, menjawab keraguannya dengan tanpa menolehkan wajah. "Tentu. Hanya di tempat itu kita bisa membeli obat, seluruh bandar di kota sudah habis diciduk polisi." Kami mempercepat langkah. Tak lama, sebuah bangunan tua yang tampak hampir rubuh terhampar di depan mata. Genting dan jendelanya penuh lubang-lubang, dengan cat yang mulai mengelupas di setiap bagian dinding. Meski begitu, masih tetap terlihat torehan sisa-sisa kemegahannya dahulu. Sebuah gereja. Aku mendorong pintu depannya yang berhias relief-relief kuno, sedang Lily mengekor dari belakang. Belasan pria--atau mungkin wanita--berdiri mematung dekat altar seolah menanti kedatangan kami dengan jubah hitam dan tudung berwarna senada yang melingkupi kepala. Lily menggenggam erat jemariku. Terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku mencelupkan dua jari dalam bejana kecil yang berisikan air, kemudian menempelkannya di dahi dan dua titik di bagian dada. Lalu kembali berjalan menuju orang-orang berjubah hitam itu, melewati barisan kursi-kursi panjang panti umat. "Selamat datang," salah satu dari mereka menyapa, dapat kupastikan dari suaranya, ia seorang laki-laki. Lelaki itu meraih dua cawan emas penuh berisi minuman anggur dan menyodorkannya pada kami. Lily memandangku penuh tanya. Bingung. Namun ia hanya mengikuti saat kutenggak habis minuman yang diberikan. *** Aroma tajam dari wewangian sesaji tercium begitu menusuk hidung. Kulihat Lily tergeletak di atas meja altar dengan lilin- lilin hitam yang mengitarinya. Aku kini telah mengenakan jubah hitam, membuatku tampak seperti salah satu dari mereka. "Ambil jantungnya, dan jadilah abdi kegelapan," lelaki di sebelahku menyerahkan sebuah pisau bedah kecil. Aku meraihnya dengan mantap dan melangkah mendekati Lily yang masih terbujur tak bergerak. Kusampirkan helai rambut yang menutupi wajahnya dengan lembut. Kuusap pipinya perlahan. "Maafkan aku, Sayang. Aku ingin kaya. Aku harus kaya." -Kevin bagaimana pendapat anda (tolong berkomentar atas cerita di atas).....

0 komentar:

Posting Komentar