Rss

Rabu, 28 Mei 2014

Conspired-...


 saya hanya membagi cerita...



Conspired-............ .....

Prolog : ***
Malam itu, aku berjalan sendirian di sebuah Padang Tandus. Hanya aku, dan Tanah Gersang dengan Pepohonan yang mati, sebelum aku melihat jauh.. sebuah gundukan, yang hitam pekat. Awan Mendung dan terlihat sesekali Kilatan sebuah cahaya Petir. Aku tahu, ada yang tidak beres dari ini. Aku mulai berlari namun perlahan, sesuatu yang sangat dingin ku rasakan. Sentuhan perlahan-lahan dari sebuah kutukan. Aku berdiam, menatap ke sekeliling. Hingga Awan hitam mulai betebaran, aku berbalik dan mempercepat laju lariku, hujan mulai turun.. hitam pekat layaknya tinta perjanjian, nafasku mulai terasa asing, hingga jantungku serasa terungkit. Gundukan itu perlahan terlihat. Sosok besar dengan tanduk di atasnya, bergerak turun dan terus menerus bernafas tanpa henti, binatang yang ku tahu adalah seekor Sapi Betina besar, Aku menatapnya dengan mata tercekat. Aliran darahku serasa berhenti, ketika senandung asing menyetubuhi aroma yang ku hirup begitu dingin dan asing. Apa yang ku lihat ini sangat buruk, Takdir yang begitu buruk.. aku menatapnya terus menerus, darah merah mulai keluar dari anus Sapi Betina itu. Binatang itu akan melahirkan. Aku mulai memekik mundur, berjalan mencoba untuk menjaga jarak, ketika perlahan-lahan, sosok berkepala mulai muncul dan.. ** aku melompat dari Ranjangku, keringat dingin ku rasakan dalam Dahiku. Aku merasa begitu tertekan dengan semua ini. Mimpi yang baru saja ku lihat, seolah adalah goresan tanda sebuah Takdir yang menakutkan. Aku terus menerus menatap tubuhku, masih terasa asing ketika kau terhempas dari dalam mimpimu. Sangat mengerikan.. 6 jam setelah itu, aku menyingsingkan Tirai putih, untuk tidak lagi menghalangi Cahaya matahari yang masuk. Ku kenakan Jas yang biasa ku gunakan, sepatu hitam kilatan faforitku. Dan berkelana dengan mobil biru Style yang baru saja ku beli. Aku masih mencoba menafsirkan mimpi itu. Berusaha mencari sisi sela dari apa yang terjadi. Mimpi bukan bunga tidur seperti apa yang orang bicarakan tentang omong kosong, aku tahu, omong kosong dan aku tidak percaya dengan itu, kenapa aku tidak percaya?? Karena aku melihat lebih banyak daripada apa yang orang lihat. Aku mengetahui hal yang jauh lebih kelam daripada saat kau berbicara tentang kematian. Ya, ada kematian yang jauh lebih mengerikan, dan kau bahkan tidak akan ingin untuk sekedar mendengarnya. Ku hentikan sejenak Mobilku. Menerawang jauh, puluhan bahkan ratusan orang yang berlalu lalang melewati ini semua. Mereka semua melakukan hal yang sama, setiap hari, selalu begitu. Aku tidak mengerti, kenapa manusia selalu melakukan hal seperti itu, seperti sebuah Hamster yang terus berlari dalam Rodanya. Tidak akan ada jalan keluar, terus bergerak namun tetap diam. Aku kembali berjalan saat lampu merah itu berganti menjadi hijau. Ku injak kuat gas dalam Mobilku, melintas jauh menuju dalam Hutan. Semakin dalam untuk menjauh dari peradaban yang aku sebut dengan Kota yang tidak pernah tidur. Perlahan-lahan, Jalanan ini semakin Sepi, hanya Pohon-Pohon tua, besar dan begitu banyak. Aku mulai merasakan pergerakan awan yang juga berubah, “Jangan Hujan!! Jangan hujan!! “ hanya itu lah yang aku gumamkan setiap detik. Namun aku salah. Hujan perlahan turun, di iringi Petir yang mengelegar!! Sial !! kalimat umpatan pertama yang ku keluarkan ketika semua tidak berjalan dengan baik. Namun seiring berjalanya laju mobilku di aspal itu, aku mulai merasakan hentakan perlahan dengan irama yang berdentum pelan, sesuatu bergerak dalam gerimis ini, aspal yang basah mengisyaratkan sebuah suara yang meringkak.. halus dan begitu menusuk. Aku mulai menatap celah dari pepohonan dalam Hutan, hingga biasan kaca mobilku yang terpercik Hujan terasa begitu dalam membawaku.. wajah yang halus, seorang wanita sayu terlihat dari biasan kaca mobilku. Aku menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Ku telan perlahan ludahku, merasakan emosi yang sudah memenuhi kepalaku, hingga.. “Brakkakkakkak!! Cyyyttt!!!” Mobilku menghantam sesuatu begitu keras. Sosok bergaun putih terlempar ke atas, setidaknya itu lah yang ku lihat sepersekian detik. Aku menatap kaca spionku hingga aku tidak melihat siapapun ada disana, berdiri mengawasiku.. tidak ada manusia atau makhluk apapun, hanya emosi dari pertanyaan yang sudah memenuhiku sejak mimpi penuh kutukan itu. Sekilas, Terbayang wajah gadis itu. Kembali muncul, kali ini dalam Otakku. Terbayang semuanyaa, senyumanya, dimana dia duduk, bagaimana dia akhirnya tewas. Gadis yang malang, namun aku tidak tahu siapa dia?? Sepertinya alasanku untuk menuju masuk dalam hutan ini adalah alasan yang tepat. Aku harus menemuinya. Mark Elifer si Penyair Mimpi. Dia harus menjelaskan kepadaku, arti terkutuk dari mimpi itu, ini semacam Rantai yang sudah membawaku, ribuan kasus Supranatural sudah pernah ku tangani, namun janji Iblis yang pernah ku baca dalam sebuah buku Perjanjian, kini menimpaku.. Memutuskan Rantai Perjanjian itu, ya.. aku harus tahu, arti dari mimpi itu. Sebelum Roda dalam Rantai berputar, membawaku masuk semakin jauh ke dalam Dunia penuh Samudra Kelam yang sangat dingin. Aku mulai masuk kembali dalam Mobilku, menginjaknya perlahan dan kembali tertuju pada jalan Lurus di depanku. Karena awal dari segalanya telah di mulai, saat aku membuka kedua mataku.
*** Aku berhenti di sebuah Paviliun Tua, sahabat lamaku. Mungkin bukan sahabat hanya kenalan, karena kami hanya menyapa dengan menggunakan insial, dia memanggilku dengan nama Ricle (Le = yang di balik dari kalimat El = suci) yang artinya dia memanggilku dengan nama Ri yang buruk menuju suci. Sebuah Tafsiran dari kalimat kuno. Aku tidak perduli dengan panggilan itu, karena yang mereka kenal dariku adalah, mereka menyebutku dengan nama Pilux . Pilux adalah buah yang hanya bisa di lihat, ketika dirimu dalam ambang kematian, buah ini tinggal di sebuah Pohon yang hanya ada di celah sayap Malaikat Kematian. Aku mendapatkan nama itu dari Organisasi Supranatural yang aku ikuti, karena menurut mereka, aku Unik. Begitu dingin, begitu Kuning dan begitu Mematikan. Aku mulai melihat sisi Paviliun yang terlihat eksotis, terutama saat kau berhasil menatapnya dari sisi Bebatuan di tepian Pantai ketika kau berhasil keluar dari dalam Hutan Kelam itu. Menurutku, aku mengerti kenapa orang sepertinya lebih suka tinggal di tempat seperti ini. Jauh dari keramaian, dan jauh dari omong kosong tentang Manusia yang selalu sama, terkadang sendirian jauh lebih mengasyikkan karena kau bisa mengenali dirimu sendiri di bandingkan kau bersama dengan sahabat yang hanya berbicara jujur ketika dia ada di belakangmu. Ku parkir Mobilku. Lalu berjalan turun, menapakki anak tangga tak terawatt. Dia sangat terkenal, hebat. namun hidupnya sangat menjijikkan, Penafsir Mimpi. Aku tidak akan menertawakanya, karena terkadang dunia di mimpi jauh lebih nyata di bandingkan apa yang ku lihat saat ini. Aku membuka pintu itu, berjalan di lantai yang penuh dengan Symbol, gambar tentang mimpi, tentang bintang dan bulan, tentang segalanya. Aku tidak mengerti arti dari gambar-gambar mengerikan itu. Sangat buruk dan mengerikan, setiap detailnya di ilusikan begitu nyata. Namun ini semua tentang mimpiku. Mimpi yang membawaku masuk dalam Rantai pertanyaan ini, gadis itu. Hubungan apa yang ku miliki dari Sapi betina yang melahirkan sosok, aku tidak akan menyebutnya, itu terlalu cepat, dan gadis itu… siapa dia?? Bila aku benar. Ladang Tandus itu adalah Sebuah tempat yang harus ku tuju. Seperti layaknya Fatamorgana yang tidak mungkin bisa ku sentuh, mungkin ada hubunganya dengan Kasus Lain, ya.. aku harus kembali ke Dunia dimana semua manusia mati. Aku berjalan di atas papan—penuh symbol itu. Hingga, seseorang yang duduk menatapku dari balik Tirai Merah jambu, menatapku dengan dua bola matanya yang putih. “Elif” ucapku. “apa yang bisa ku lakukan untukmu. Sepertinya, ucapanku saat itu menjadi sangat nyata untukmu.. mereka sangat membencimu?? Kau kini terjebak dalam Perang di Duniamu” “Duniaku” pekikku. Elif, pria muda Penafsir mimpi dengan mata buta itu masih menatap ke arahku. “Duniamu. Hanya dirimu, dan 7 Orang sepertimu. Kalian selalu mencoba mencurangi kematian. Jadi jangan salahkan mereka bila mereka mencurangi kalian. Duniamu. Hanya duniamu. Ricle” Aku tersenyum tipis penuh ejek. Namun dalam diriku aku mencoba menerka setiap maksud tersiratnya, “jadi. Ada apa disini. Apa ada tamu lain yang tidak di undang??” Aku berjalan menatap ke sekeliling, ketika tatapanku benar tertuju pada seorang pria yang ku kenal, sama sepertiku. Dia begitu dingin, kasar, dan liar. “Elemon. Seharusnya aku tahu.” Pria berambut pirang itu berjalan menuruni anak tangga, berjalan ke arahku. Berdiri sejenak membisikkan “kau tahu? Aku ingin menjadi 7 dari mimpi yang kau lihat?? Namun sayang sekali. Aku tidak terlibat dalam Porsi Ceritamu. Sayang sekali” dia tersenyum penuh sindiran sebelum meninggalkanku. “apa yang dia lakukan??” aku menatap Elif. “tidak ada!! Hanya bertanya, tentang perbedaan surge dan Neraka. Itu bukan urusanmu, dia sama sepertimu, tamu yang tidak ku undang.” “jadi. Langsung saja. Katakan. Kenapa mimpi itu menimpaku.. apa yang harus aku lakukan?” “aku tidak bisa mengatakan apapun kepadamu. Itu hanya akan memperburuk semuanya. Namun ada 1 cara untukmu mendapatkan jawaban. Dan aku bisa memberitahumu sesuatu, hanya kalimat saja. Tuhan Menciptakan Surga dalam waktu 7 hari.” ** Aku kehilangan segalanya. Tidak ada yang bisa ku dapatkan. Selain kalimat itu. Namun, ada 1 hal yang bisa ku pelajari dari ini adalah. Angka 7 . Jadi. Iblis yang lahir dari Sapi Betina itu telah meminta 7 Orang. Dan aku adalah salah satu dari 7 orang itu.....

bagai mana pendapat kalian atas cerita di atas....

0 komentar:

Posting Komentar